Senin, 09 November 2015

Esok yang aku impikan

Hari ini adalah esok yang mungkin pernah kita impi-impikan. Coba inget-inget lagi deh, kapan kamu menginginkan sesuatu atau berpikir tentang sesuatu tentang hal yang ingin kamu raih di hari-hari selanjutnya dalam hidupmu, dan saat ini atau hari ini hal yang kita inginkan tersebut sedang terjadi. Tapi kebanyakan dari kita, termasuk aku mungkin malah mengeluhkan hal yang terjadi hari ini. Kita atau aku mungkin lupa, bahwa jauuuuuuuh sebelum hari ini, aku pernah memimpikan akan terjadinya hari ini.

Esok yang aku mimpikan saat kemarin adalah hari ini, saat ini, atau sekarang-sekarang ini, atau rutinitas hari-hari ini. Kemarin-kemarin dan kemarin-kemarinnya lagi, pernah berpikir tentang enaknya hari esok jika aku sudah bekerja, tiap weekend atau 2 pekan sekali bisa pulang ke rumah semauku. Tidak seperti saat kuliah yang jadwalnya kebanyakan sampe hari sabtu di tiap semesternya.
“Enak kali ya kalo dah kerja, bisa mandiri karena ga bergantung sama orangtua lagi, bisa ngasih ke orangtua juga, bisa mengunjungi orangtua dengan jadwal yang rutin. Hmm.. ingin segera esok rasanya.”

Dan hari ini, saat-saat ini, atau sekarang-sekarang ini, esok yang aku impikan tersebut sedang terjadi. Pribadi yang tak bersyukur rasanya jika hari-hari ini ku lalui dengan keluhan “Kok kerja itu capek ya? Ah enak kuliah aja rasanya..”


Ya Allah.. bimbing aku untuk terus menjadi pribadi yang selalu bersyukur atas setiap kehendak-Mu. Tegur aku bila lupa dan mengeluh pada setiap “hari ini” yang mungkin sebenarnya ia adalah “esok yang aku impikan”

Ditulis dengan diiringi penuh semangat pagi,

09 November 2015
Devita Augina Hermawan

Sabtu, 03 Oktober 2015

Ridho Allah bergantung pada Ridho Orangtua

Ridho Allah bergantung pada Ridho Orangtua. Slalu aku ingat dan aku camkan itu dalam benakku. Sahabat.. seberapa seringkah engkau minta doa pada kedua orangtuamu? Banyak terbukti dari seluruh perjalanan hidupku bahwa peran doa orangtua itu sangatlah besar. Aku mulai rutin minta didoakan oleh orangtua sejak lulus SMP dan akan mengikuti ujian masuk SMA. Tiap hari sebelum menjelang ujian masuk SMA, aku belajar dengan keras (Sebagai bukti ikhtiar total) dibarengi dengan doa penuh pengharapan dan doa dari orangtua, utamanya doa ibu.
“Mah.. doakeun neng nya, neng palay SMA di kota..
“Nya, ku mamah didoakeun. Tong hilap neng na oge kudu loba ngado’a, mun bisa mah sing rajin shaum sunnah na.”
Hasilnya? Alhamdulillah sesuai harapan. Hingga saat akan ujian kelulusan SMA sampai akan interview kerja pun selalu aku libatkan peran doa dari orangtua, Karena bagiku kunci ridho Allah yang utama itu ada pada ridho orangtua dulu.
“Mah.. Pah.. Doain neng yaa hari ini mau UN.”
“Mah.. Pah.. Doain neng yaa besok neng ujian kompetensi.”
“Mah.. Pah.. Doain neng yaa minggu depan neng mulai PKL.”
“Mah.. Pah.. Doain neng yaa hari ini mau seminar.”
“Mah.. Pah.. Doain neng yaa besok neng mau sidang kelulusan.”
“Mah.. Pah.. Doain yaa tadi dapet panggilan kerja, besok neng mau interview.”
Hampir semua prosesnya Allah permudah. Aku baru menyadari hal itu sekarang. Yang aku ingat diantaranya kemudahan bisa masuk Diploma IPB, yang meskipun hanya diploma tapi setidaknya di IPB, salah satu PTN gitu loh. Hehe waktu itu banyak juga teman-temanku yang ingin masuk PTN tapi belum bisa tercapai. Berikutnya yang aku ingat itu kemudahan ketika menghadapi ujian kompetensi di kampus. Banyak yang lebih pinter, lebih rajin, lebih-lebih dari aku deh, tapi ujian kompetensinya pernah belum bisa lulus sampai-sampai harus remidial. Sedangkan aku yang biasa-biasa saja, alhamdulillah ga harus susah payah remidial biar bisa lulus. Dapat tempat PKL yang dekat dari kampus dan kostan sehingga ga perlu ngebebanin biaya lagi ke orangtua. Seminar yang bener-bener ga kayak seminar, tapi malah kayak stand up commedy, lancaaaaar dan ga mendebarkan seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Kemudian sidang kelulusan, muluuuuuus banget.. tenang.. pembimbing dan pengujinya baik banget, ah mudah lah pokoknya. Sampai ke proses mencari kerja pun, aku libatkan kekuatan doa dari orangtua di dalamnya. Dari 2 interview kerja, alhamdulillah hanya 1 kali aku dinyatakan belum bisa bergabung. Sampai hari ke-11 aku bekerja, aku rutin meminta doa kepada orangtua khususnya ibuku agar diberi kelancaran bekerja.
Lalu wahai sahabatku... seberapa seringkah engkau berdoa untuk kedua orangtuamu?
Yakinlah.. Doa seorang muslim untuk muslim yang lain tanpa diketahui siapapun itu akan di aamiin-kan oleh malaikat, dan secara tidak langsung engkau akan didoakan pula oleh malaikat seperti doa kebaikanmu untuk muslim tersebut. Dahsyat bukan? Nah apalagi berdoa untuk orangtua, mendoakan mereka-mereka yang telah ikhlas membesarkan dan merawat kita. Bukankah itu suatu bentuk berbakti terkecil kita untuk mereka? Ya, kalau lah kita belum bisa membalas jasa mereka, cukuplah kita mendoakan mereka. Dan ingatlah kembali sahabat, bahwa doa anak yang sholih/ah untuk kedua orangtuanya merupakan salah satu dari tiga perkara yang tidak akan terputus amalannya meski orangtua kita telah meninggal.
Oleh karenanya sahabat, berilah doa terbaik kita untuk keduanya.. dan mintalah doa terbaik untuk kita pada keduanya.


Semangat,
Doa terbaik dariku untukmu..
Semoga engkau bisa menjadi penyejuk mata bagi kedua orangtuamu.
Aamiin

Ayo berbirrul walidain J

Sabtu, 26 September 2015

Mudik pertama dari Cianjur

Rabu, 23 September 2015 lalu aku bergegas untuk mudik ke Cirebon tepat sepulang kerja. Tanpa ba-bi-bu lagi, dan tanpa mampir ke kosan dulu. Dari Pyridam yang biasanya kalau pulang kerja aku diantar bus karyawan, hari itu aku pulang naik ojek (Biar cepet). Perjalanan dari Pyridam sampai dengan Pacet Beunying kira-kira 10 menit. Setibanya di perempatan pacet yaitu pukul 16.15 WIB. Sekitar 30 menit menunggu Bus DOI (Do'a Ibu) jurusan Jakarta - Tasik via Puncak yang tak kunjung datang, akhirnya aku memutuskan untuk naik Bus apapun. "Yang penting Bus nya lewat Cileunyi." Pikirku
Daaannnn... tadaaaa... Bus Karunia Bhakti jurusan Jakarta - Garut via puncak pun lewat. Akhirnya aku naik Bus Karunia Bhakti dan ga jadi naik DOI. Haha
Estimasi waktu 3 jam bakal nyampe Cileunyi pun sirna. Penyebabnya ialah macet. Macetnya di daerah Ciranjang, Tagog apu (Padalarang), dan di tol padaleunyi sebelum pintu keluar tol. Wajar sih, mungkin karena besoknya hari raya. Jadi banyak orang yang ingin mudik juga. Dan akhirnya aku sampai di Cileunyi sekitar pukul 23.00 WIB. Pfffffffttttt ngaret nya keterlaluan. Hampir pasrah, bingung, nyerah, mau nangis, takut, karena jam segitu ada di kota orang dan itu pertama kalinya aku kesitu. Hikssss lalu aku naik angkot jurusan Cicaheum, tapi ga turun di cicaheumnya. Turunnya di lampu merah perempatan cileunyi yang biasa di lewatin bus-bus Cirebon. Barulah sekitar pukul 00.30 WIB aku dapat mobil elf jurusan Bandung-Cirebon, hingga akhirnya pukul 03.00 WIB aku sampai di terminal Harjamukti Cirebon. Amazing kan? Bandung-Cirebon 2,5jam. Bener-bener ngebut itu mobil. Haha tapi aku ga ngerasain ngebutnya, karena sepanjang perjalanan aku bocan (bobo cantik) terus.
Dari petualangan ini aku semakin yakin sama perlindungan Allah. Waktu aku udah pasrah ga tau arah dimana bus-bus ke cirebon biasa ngelewat, Allah pertemukan aku dengan si mbak-mbak penunjuk jalan, dan Allah juga pertemukan aku dengan mamang angkot yang baik, yang ngarahin aku ke jalan yang tepat. *ceileeeeh
Udah gitu, waktu tengah malem nunggu bus cirebon yang ga kunjung lewat, Allah pertemukan aku juga dengan mba Ima (Orang kuningan yang sama-sama mau mudik dan lagi nunggu bus juga), hingga akhirnya aku jadi ga sendirian deh selama di perjalanan dari bandung ke cirebon nya. Alhamdulillah.. kalau ga ada perlindungan dari Allah mah ga tau deh aku bakal kayak gimana nasibnya.
Sesampainya di Harjamukti, aku ga langsung pulang ke rumah, tapi aku harus nunggu dijemput mamah dan mpah dulu. Jam 3 pagi belum ada angkutan umum ke daerah rumahku. Sebab rumahku masih jauh dari hiruk pikuk kota Cirebon berintan. And finally jam 4 pagi aku sampai di rumah. Dan semuanya terasa seperti mimpi, ketika jam 6 pagi aku sudah ikut mendengarkan khutbah di mesjid Zaid. Ya, seperti mimpi rasanya 6 jam lalu masih luntang-lantung di cileunyi dan sekarang sudah berkumpul bersama keluarga merayakan hari raya. Seperti mimpi...

Yuk, berpetualang lagi.. 😊

Salam petualang,
Srikandi Beransel.

Sabtu, 12 September 2015

A man who i called father (1)

Bapak Anton Hermawan. Pria kelahiran Tasik malaya, 03 Maret 1965 ini adalah sesosok pria yang sangat-sangat menyayangiku. Jikalau nanti suamiku kelak adalah pangeran untukku, maka beliau ini adalah raja untukku. Beliau itu sosok ayah yang sangat pekerja keras, kulitnya yang hitam dan kasar, sangat menandakan betapa kerasnya perjuangan dan pengorbanan beliau menafkahi anak, istri, dan keluarganya. Beliau juga sangat dermawan dan humoris.
Selama 20 tahun ini, aku merasa tak pernah sekali pun beliau memukulku, mencubitku, menjewerku ketika aku berbuat sesuatu hal yang mungkin menjengkelkan baginya. Marahnya beliau hanya dengan kata-kata, tapi itu cukup menyakitkan. Aku paling tak ingin dimarahi ayahku ini. Bagiku beliau seperti malaikat. Pria nomor satu yang slalu siap melindungiku. Ayaaaaah.. aku sangat menyayangimu.
Aku bersyukur, semakin aku beranjak dewasa, ayah sebagai kepala keluarga semakin mendalami agama. Nasihat-nasihat yang beliau berikan padaku selalu berlandaskan nilai-nilai agama. Kebiasaan barunya kini pun berubah. Setiap habis shalat subuh, ayah slalu membuka laptop. Membuka situs youtube untuk menonton ceramah-ceramah dari ulama-ulama ahlussunnah. Aku pun banyak mendengar nama-nama ulama ahlussunnah itu dari beliau, seperti ustadz Firanda Andirja, ustadz Bachtiar Nasir, ustadz Yahya Badrussalam, ustadz Syafiq Riza Bassalamah, ustadz Abdullah Zein, dsb.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena Allah telah hidupkan hidayah itu pada ayahku. Pada sang nahkoda keluargaku. Semoga hidayah itu tetap tersemat dalam sanubari ayahku, dan juga pada diriku, ibuku, kakakku, serta ketiga adikku.

Kamis, 03 September 2015

Allah, sang pemegang harapan

Ketika berharap pada manusia hanya mendapat kecewa dan luka, maka kembali lah untuk berharap pada Allah dengan sepenuhnya pengharapan. Karena Allah senang dikala ada hambaNya bersujud meminta dan hanya berharap padaNya.
Segala puji bagi Allah, yang slalu mengabulkan harapanku 😅

Rabu, 27 Mei 2015

Supporter

Semangat seminar..
Semoga Allah mudahkan seminarnya.
Tak bisa hadir, tapi insya Allah doanya selalu mengiringi.
Hari ini, 27 Mei 2015 pukul 13.00 - 14.00 WIB.
Gudlak ✊

Selasa, 17 Maret 2015

Bisakah?

Bisakah bersabar sedikit lagi untuk segala kelelahan yang mungkin sedang kamu rasakan ini?

Bisakah bersabar sedikit lagi menahan segala jemu ini?

Bisakah bersabar sedikit lagi menghadapi segala kebosanan-kebosanan ini?

Bisakah bersabar sedikit lagi untuk melawan rasa malasmu ini?

Ya, bersabar sedikiiiiit lagi..
Sedikit lagi kok..
Sedikit lagi Dev..

Sabar.. sabar.. sabar Dev..
Ingatlah, bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang bersabar.

Tegar Dev, tegar..
Lawan Dev, lawan..
Lawan malasmu, lawan bosanmu, lawan lelahmu..

Nikmati setiap prosesnya yuk Dev.
Petik setiap hikmah dari proses yang dijalani saat ini.

Ayo Dev.. ayo..
Setelah masa-masa ini, kamu bisa bebas menentukan hidupmu. Semau kamu.
'Lakukan apa yang kamu sukai' nya hilangkan dulu untuk saat ini, ganti dulu dengan 'Lakukan apa yang jadi kewajiban'.

Puncak dari perjalanan ini sebentar lagi, ayoo bergegas Dev..

Bogor, 16 Maret 2015.
21.20 WIB

Sabtu, 07 Februari 2015

Ingatlah pada-Ku, niscaya Aku pun ingat padamu.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh...
Sobat, bagaimana kabarmu? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan dilindungi Allah dimanapun kalian berada. Aamiin
Udah lama banget pengin cerita tentang banyak hal yang aku rasakan, tapi penyakit malesnya itu loooooh susah banget diilangin, ini juga mesti diniatin bener-bener buat nulis..
Sobat inget ga sama cerita tentang tahapan menuju toga? And you know? Sekarang aku udah nyampe di tahap keenam, tahap PKL. Ga nyangka, tahapan demi tahapannya udah terlewati dengan begitu banyak kemudahan-kemudahan yang tak henti-hentinya Allah hadirkan.
Dimulai waktu ukom (re : ujian kompetensi) untuk ngajuin tempat PKL duluan, sampe ke tahapan ukom praktikum yang jadi porsi penentu banget lulus atau engga nya kami (mahasiswa/i ankim) di ketiga ukom yang dijalani. Ukom pertama, Allah mudahkan prosesnya dan hasilnya alhamdulillah sesuai seperti yang diharapkan sehingga dari situ aku udah diijinkan untuk mengajukan tempat PKL duluan. Kemudian ketika proses pengajuan tempat PKL, Allah yang melancarkan proses-prosesnya. Jawaban dari tempat PKL yang menyatakan bahwa aku diijinkan untuk PKL disana pun aku terima hanya dalam waktu seminggu. Jawaban yang bisa masuk kategori “cepat”, sehingga alhamdulillah ga merasakan lamanya digantung (diterima apa engga) sama tempat PKL.
Akhir oktober udah dapet tempat PKL fix, sehingga Alhamdulillah bisa lebih fokus menjalani aktivitas perkuliahan di semester 5. Bahkan ga hanya kuliah, kegiatan liqo (kegiatan asupan gizi ruhani) ku masih bisa berjalan, membimbing tahsin adik-adik tingkat juga bisa dikatakan rutin berjalan, tahsin tiap pekan juga masih bisa (bahkan bisa ikut ujian tahsin juga, padahal tadinya udah pesimis banget bakal vakum kayaknya), kegiatan syuro-syuro FR juga masih bisa ikutan, dan di akhir-akhir semester 5 malah diminta pegang binaan. Tapiiiii ... itu semua ga menjadi penghalang kok untuk kegiatan PERKULIAHAN ku di semester 5, yang bisa dibilang tugas-tugas di semester 5 itu makin ga nyelow. Hehe penuh dengan tugas jurnal-jurnal, laporan (tetep), kuis, raker, makalah, de el el. Itu semua karena apa ya? Karena pertolongan Allah tentunya. Finally, hasil ip di semester 5 alhamdulillah tetap bisa memenuhi syarat untuk PKL di semester 6.
Ujian kompetensi tertulis. Pelaksanaan ukom tertulis ini tepat sehari setelah aku milad, yaitu tanggal 10 Januari 2015. Milad di tanggal 9 Januari 2015 ini ga berasa milad. Perasaan yang ada yaitu was-was, “Gimana yaa nasib ukom besok?”
Milad nya diisi dengan belajar dari subuh sampe sore. Ngerjain latihan-latihan soal, memahami soal, dan baca-baca materi sekenanya aku (Aku tipikal yang ga mau maksain otak untuk nerima materi yang bener-bener udah ga bisa dimengerti dalam jangka waktu tertentu). Dan tahukah kalian bagaimana hasilnya? Ini rasanya seperti surprise dari Allah, aku memenuhi standar nilai yang diinginkan. Alhamdulillah ..
Kelar ukom tertulis, masuk ke tahap kuliah pembekalan. Kuliah pembekalan berlangsung selama tiga hari dan sehari kemudian langsung ujian pembekalan. Materi yang diujikan pada ujian pembekalan adalah materi dari kuliah pembekalan. Bayangin dong kuliahnya hanya 3 hari dengan masing-masing pertemuan itu matakuliah yang berbeda, dan masing-masing matakuliahnya diujiankan. Ribet! Tapi alhamdulillah atas karunia Allah, prosesnya bisa terlewati.
Dua hari pasca ujian pembekalan, langsung ukom praktikum. Ini puncak yang paaaaaaaaaaling mendebarkan selama perjuangan untuk mencapai tahap ke-6 di tahapan menuju toga. Lagi-lagi, Allah meolongku. Selama ukom praktik, Allah beri aku ketenangan sehingga aku bisa berpikir dengan tenang dan bisa memahami soal yang diujiankan. Praktikumnya juga berjalan lancar, alhamdulillah. Hasil dari ukom pertama, kedua, dan ketiga menghasilkan keputusan bahwa aku berhasil melewati tahapan ukom dan bisa diijinkan untuk PKL.
Alhamdulillah.. alhamdulillah.. alhamdulillah.. di tanggal 31 Januari 2015 lalu, Allah masih kasih aku umur dan kesehatan sehingga aku bisa ikut pelepasan PKL. Hingga akhirnya pada hari ini, aku sudah mulai PKL di hari kelima, di Balai Penelitian Pengembangan Budidaya Air Tawar, Sempur – Bogor.
Sertakan Allah di setiap urusan kita, dan percayalah bahwa satu-satunya penolong hanyalah Allah. Janji Allah itu pasti. Setiap kita ingat dan berdoa pada Allah, Allah pasti akan ingat kita dan menolong kita.
           



Salam hangat,
Devita Augina Hermawan


Selasa, 06 Januari 2015

Tak terbuang percuma

Alhamdulillah, hari ini aku merasa bahwa hariku cukup produktif. Hari ini target yaumiah bisa tercapai, bisa mengisi waktu untuk kumpul dengan sahabat kostan (ceritanya habis dinner bareng else, puja, rizki di lavanira), bisa sharing dengan martha tentang ldk, bisa silaturrahim dengan mamah meski via sms. Senang, serasa hidupku ini ada gunanya. Setiap waktunya tidak terbuang percuma. Apalagi waktu aku habis jarkom tausiyah kepada adik-adik binaanku, dan mereka meresponnya dengan sangat baik. Hal ini jadi semakin meningkatkan semangatku untuk bisa lebih menjadi insan yang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Hakikatnya memberi itu takkan pernah habis. Berikan lah apa yang bisa kamu berikan, karena in syaa Allah apabila dilakukannya dengan ikhlas, maka keberkahan dan kebahagiaan lah balasan yang akan kita terima.