Sabtu, 26 September 2015

Mudik pertama dari Cianjur

Rabu, 23 September 2015 lalu aku bergegas untuk mudik ke Cirebon tepat sepulang kerja. Tanpa ba-bi-bu lagi, dan tanpa mampir ke kosan dulu. Dari Pyridam yang biasanya kalau pulang kerja aku diantar bus karyawan, hari itu aku pulang naik ojek (Biar cepet). Perjalanan dari Pyridam sampai dengan Pacet Beunying kira-kira 10 menit. Setibanya di perempatan pacet yaitu pukul 16.15 WIB. Sekitar 30 menit menunggu Bus DOI (Do'a Ibu) jurusan Jakarta - Tasik via Puncak yang tak kunjung datang, akhirnya aku memutuskan untuk naik Bus apapun. "Yang penting Bus nya lewat Cileunyi." Pikirku
Daaannnn... tadaaaa... Bus Karunia Bhakti jurusan Jakarta - Garut via puncak pun lewat. Akhirnya aku naik Bus Karunia Bhakti dan ga jadi naik DOI. Haha
Estimasi waktu 3 jam bakal nyampe Cileunyi pun sirna. Penyebabnya ialah macet. Macetnya di daerah Ciranjang, Tagog apu (Padalarang), dan di tol padaleunyi sebelum pintu keluar tol. Wajar sih, mungkin karena besoknya hari raya. Jadi banyak orang yang ingin mudik juga. Dan akhirnya aku sampai di Cileunyi sekitar pukul 23.00 WIB. Pfffffffttttt ngaret nya keterlaluan. Hampir pasrah, bingung, nyerah, mau nangis, takut, karena jam segitu ada di kota orang dan itu pertama kalinya aku kesitu. Hikssss lalu aku naik angkot jurusan Cicaheum, tapi ga turun di cicaheumnya. Turunnya di lampu merah perempatan cileunyi yang biasa di lewatin bus-bus Cirebon. Barulah sekitar pukul 00.30 WIB aku dapat mobil elf jurusan Bandung-Cirebon, hingga akhirnya pukul 03.00 WIB aku sampai di terminal Harjamukti Cirebon. Amazing kan? Bandung-Cirebon 2,5jam. Bener-bener ngebut itu mobil. Haha tapi aku ga ngerasain ngebutnya, karena sepanjang perjalanan aku bocan (bobo cantik) terus.
Dari petualangan ini aku semakin yakin sama perlindungan Allah. Waktu aku udah pasrah ga tau arah dimana bus-bus ke cirebon biasa ngelewat, Allah pertemukan aku dengan si mbak-mbak penunjuk jalan, dan Allah juga pertemukan aku dengan mamang angkot yang baik, yang ngarahin aku ke jalan yang tepat. *ceileeeeh
Udah gitu, waktu tengah malem nunggu bus cirebon yang ga kunjung lewat, Allah pertemukan aku juga dengan mba Ima (Orang kuningan yang sama-sama mau mudik dan lagi nunggu bus juga), hingga akhirnya aku jadi ga sendirian deh selama di perjalanan dari bandung ke cirebon nya. Alhamdulillah.. kalau ga ada perlindungan dari Allah mah ga tau deh aku bakal kayak gimana nasibnya.
Sesampainya di Harjamukti, aku ga langsung pulang ke rumah, tapi aku harus nunggu dijemput mamah dan mpah dulu. Jam 3 pagi belum ada angkutan umum ke daerah rumahku. Sebab rumahku masih jauh dari hiruk pikuk kota Cirebon berintan. And finally jam 4 pagi aku sampai di rumah. Dan semuanya terasa seperti mimpi, ketika jam 6 pagi aku sudah ikut mendengarkan khutbah di mesjid Zaid. Ya, seperti mimpi rasanya 6 jam lalu masih luntang-lantung di cileunyi dan sekarang sudah berkumpul bersama keluarga merayakan hari raya. Seperti mimpi...

Yuk, berpetualang lagi.. 😊

Salam petualang,
Srikandi Beransel.

Sabtu, 12 September 2015

A man who i called father (1)

Bapak Anton Hermawan. Pria kelahiran Tasik malaya, 03 Maret 1965 ini adalah sesosok pria yang sangat-sangat menyayangiku. Jikalau nanti suamiku kelak adalah pangeran untukku, maka beliau ini adalah raja untukku. Beliau itu sosok ayah yang sangat pekerja keras, kulitnya yang hitam dan kasar, sangat menandakan betapa kerasnya perjuangan dan pengorbanan beliau menafkahi anak, istri, dan keluarganya. Beliau juga sangat dermawan dan humoris.
Selama 20 tahun ini, aku merasa tak pernah sekali pun beliau memukulku, mencubitku, menjewerku ketika aku berbuat sesuatu hal yang mungkin menjengkelkan baginya. Marahnya beliau hanya dengan kata-kata, tapi itu cukup menyakitkan. Aku paling tak ingin dimarahi ayahku ini. Bagiku beliau seperti malaikat. Pria nomor satu yang slalu siap melindungiku. Ayaaaaah.. aku sangat menyayangimu.
Aku bersyukur, semakin aku beranjak dewasa, ayah sebagai kepala keluarga semakin mendalami agama. Nasihat-nasihat yang beliau berikan padaku selalu berlandaskan nilai-nilai agama. Kebiasaan barunya kini pun berubah. Setiap habis shalat subuh, ayah slalu membuka laptop. Membuka situs youtube untuk menonton ceramah-ceramah dari ulama-ulama ahlussunnah. Aku pun banyak mendengar nama-nama ulama ahlussunnah itu dari beliau, seperti ustadz Firanda Andirja, ustadz Bachtiar Nasir, ustadz Yahya Badrussalam, ustadz Syafiq Riza Bassalamah, ustadz Abdullah Zein, dsb.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena Allah telah hidupkan hidayah itu pada ayahku. Pada sang nahkoda keluargaku. Semoga hidayah itu tetap tersemat dalam sanubari ayahku, dan juga pada diriku, ibuku, kakakku, serta ketiga adikku.

Kamis, 03 September 2015

Allah, sang pemegang harapan

Ketika berharap pada manusia hanya mendapat kecewa dan luka, maka kembali lah untuk berharap pada Allah dengan sepenuhnya pengharapan. Karena Allah senang dikala ada hambaNya bersujud meminta dan hanya berharap padaNya.
Segala puji bagi Allah, yang slalu mengabulkan harapanku 😅