Sabtu, 12 September 2015

A man who i called father (1)

Bapak Anton Hermawan. Pria kelahiran Tasik malaya, 03 Maret 1965 ini adalah sesosok pria yang sangat-sangat menyayangiku. Jikalau nanti suamiku kelak adalah pangeran untukku, maka beliau ini adalah raja untukku. Beliau itu sosok ayah yang sangat pekerja keras, kulitnya yang hitam dan kasar, sangat menandakan betapa kerasnya perjuangan dan pengorbanan beliau menafkahi anak, istri, dan keluarganya. Beliau juga sangat dermawan dan humoris.
Selama 20 tahun ini, aku merasa tak pernah sekali pun beliau memukulku, mencubitku, menjewerku ketika aku berbuat sesuatu hal yang mungkin menjengkelkan baginya. Marahnya beliau hanya dengan kata-kata, tapi itu cukup menyakitkan. Aku paling tak ingin dimarahi ayahku ini. Bagiku beliau seperti malaikat. Pria nomor satu yang slalu siap melindungiku. Ayaaaaah.. aku sangat menyayangimu.
Aku bersyukur, semakin aku beranjak dewasa, ayah sebagai kepala keluarga semakin mendalami agama. Nasihat-nasihat yang beliau berikan padaku selalu berlandaskan nilai-nilai agama. Kebiasaan barunya kini pun berubah. Setiap habis shalat subuh, ayah slalu membuka laptop. Membuka situs youtube untuk menonton ceramah-ceramah dari ulama-ulama ahlussunnah. Aku pun banyak mendengar nama-nama ulama ahlussunnah itu dari beliau, seperti ustadz Firanda Andirja, ustadz Bachtiar Nasir, ustadz Yahya Badrussalam, ustadz Syafiq Riza Bassalamah, ustadz Abdullah Zein, dsb.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena Allah telah hidupkan hidayah itu pada ayahku. Pada sang nahkoda keluargaku. Semoga hidayah itu tetap tersemat dalam sanubari ayahku, dan juga pada diriku, ibuku, kakakku, serta ketiga adikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar