Sabtu, 26 Maret 2016

Partner hijrah

Assalamu'alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh..
Kaifa haluk? Ana bi khoir, alhamdulillah.
Hehe sesekali menyapa pakai bahasa yang berbeda gapapa ya? Biar ga bosen.
Partner hijrah. Ya, partner hijrah. Siapa? Dialah ibuku, ibu Ida Laelatus Saidah, partner hijrahku.
Bahkan beliau sudah hijrah lebih jauh dariku, beliau lebih semangat, lebih istiqomah, hmm hampir totalitas berhijrah lah bisa dibilang seperti itu.
Aku salut padanya, semangat dan aktifnya beliau dalam menuntut ilmu syar'i, dalam kegiatan-kegiatan positif sangat memberikan keteladanan bagiku.

"Mamah mah akselerasi percepatan ibadah, dulu banyak waktu yang terbuang. Mumpung masih dikasih umur, jadi harus dimanfaatkan untuk kebaikan neng."

Hijrah itu perlu proses tapi perlu ada progress. Cepat. Ya, progress beliau bisa kubilang cepat. Kebiasaan-kebiasaannya pun berubah. Senin s.d. sabtu beliau full mengajar, senin dan jumat malam hadir kajian rutin di mesjid rumah. Sabtu dan ahad sore ada tahsin. Ahad paginya ada belajar bahasa arab. Ah, iri sekali rasanya melihat hari-hari beliau yang begitu produktif.

Beliau tak pernah lelah mendoakan, menasihati, dan mengingatkan kebaikan-kebaikan pada putra-putrinya.

"Neng, nih, dek.. Ai tos shalat teh jangan lupa berdzikir dulu. Sebentar juga ga apa-apa.."
"Neng.. kalau bisa mah tiap hari teh selain menunaikan shalat lima waktu yang wajib, kerjakan juga shalat sunnah rawatibnya, barangsiapa yang menunaikan shalat sunnah rawatib 12 rakaat setiap hari, kelak di akhirat akan dibangunkan rumah di syurga untuknya."
"Nih.. tiap sebelum tidur teh kalau bisa mah berwudhu dulu."

Taukah apa yang menjadi cita-cita/harapannya pada kelima putra-putrinya? Saaaaangat sederhana. Beliau hanya ingin putra-putrinya jadi anak-anak yang sholih/sholihah. Beliau tak mengharapkan putra-putrinya mempunyai karir yang cemerlang.
"Bagi mamah, bahagianya mamah itu ketika melihat anak-anak mamah rajin ibadahnya dan dekat dengan Al qur'an. Kalau anak mamah itu sudah berkeluarga, ya mamah akan merasa bahagia ketika melihat keluarganya itu rukun."

Cita-cita yang sederhana kalau kita memandangnya dari sisi dunia.

Allaahummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kamaa rabbayaani shaghiiraa




Cirebon, 26 Maret 2016
23:23 WIB


Minggu, 06 Maret 2016

I've got married, sist.

Barokallahulaka wa baroka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir, adik.

Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

Semoga diberi keturunan yang sholih/sholihah, yang mampu menjadi penyejuk mata Dan jiwa bagi kedua orangtua.

Semoga bisa menjadi seorang nahkoda yang mampu membawa bahtera rumahtangga menuju syurgaNya.

Satu rahasiaNya kini terjawab, bahwa satu diantara banyak fulan di dunia ini ternyata bukan dia yang akan menjadi jodoh si fulanah. (Kutipan teman, dengan sedikit mengalami editan)

Bersabar..
Ingat, "Sampaikanlah berita gembira pads orang-orang yang bersabar.."

Benahi diri, karena boleh jadi besok bahkan mungkin sedetik kemudian jodoh yang lebih pasti yang akan datang melamar duluan. Ya. Kematian.


Cirebon, 06 Maret 2016
00.36 WIB